Jumat, 19 Mei 2017

PERSOALAN KLASIK




Hujan yang dirindukan
Penghuni bumi merajut karena hujan yang tak kunjung turun.
Awan hitam pembawa titik air sudah lama tak kunjung datang.
Sedangkan bumi sudah mulai mengering.
Risau sudah menghatui para petani, dengan penuh tanda tanya.
Masa depan yang sudah dipertaruhkan.
Dan ketika alam punya takarannya sendiri.
Persoalan klasik tanpa solusi yang memadai.
Dan kehadiran Negara tidak signifikan dalam menghadapi persoalan ini.
Lagi-lagi rakyat seolah sendirian menghadapi persoalan-persoalannya.

Kamis, 18 Mei 2017

KEGELAPAN PERADABAN



Ketika pejuang nilai-nilai kemanusiaan dianggap musuh peradaban.
Dan dunia menjadi terbalik.
Yang benar dan yang salah tiba-tiba bertukar posisi.
Kebenaran dijadikan musuh bersama.
Ketika krisis nilai melanda dunia.
Dan potensi kehancuran peradaban tak mungkin dapat dihalau.
Peradaban tanpa nilai-nilai kebenaran dan kebaikan tidak mungkin dapat memuliakan manusia.
Kemajuan yang semu itu hakekatnya mempercepat kehancuran peradaban itu sendiri.
Maju tapi hampa, pintar tapi hatinya kosong. Terlahirlah generasi tanpa nurani.
Menghalalkan segala cara untuk mencapai hasrat pribadi adalah hal yang lumrah.
Dan peradaban tidak lagi bisa menopang kegalauan dan keresahan segenap jiwa.
Maka selamat datang masa kegelapan peradaban di tengah klaim kemajuan pengetahuan dan teknologi.
Tanpa nilai-nilai kebenaran dan kebaikan juga keadilan peradaban pasti akan hancur dengan sendirinya, tak perlu bencana alam yang dahsyat untuk meratakannya.



AKAN ADA SAATNYA



Debu musim kemarau yang tersapu oleh kencangnya terpaan angin.
Kedatangannya tidak pernah diinginkan oleh lalu-lalang mereka yang melintas.
Sebentar saja hinggap, tak seberapa lama diusap dan tercampakkan lagi ke asalnya.
Kemudian terpaan angin lagi membuatnya terbang dan hinggap untuk kesekian kalinya.
Bukan angin yang tidak pernah lelah, tapi debu yang begitu penurut ikut ke mana angin membawanya.
Setakat itu debu dianggap kotoran yang harus dijauhi dan dihalau kedatangannya.
Dan musim kemarau tak kunjung berlalu, menggersangkan semua yang menghijau.
Dan debu pun bisa lebih jauh lagi untuk terbang dan lebih bebas untuk hinggap.
Sedangkan air menjadi langka dan berharga.
Debu yang dianggap kotor dan dijauhi itu akhirnya dicari dan dirasa manfaatnya.
Debu seakan menjadi barang berharga sebagai media bersuci untuk menghadap Tuhan.
Debu digunakan untuk mengusap tangan dan wajah sebagai pengganti air.
Mungkin akan ada saatnya ketika keadaan merubah cara pandang seseorang.


Minggu, 14 Mei 2017

NALAR DAN NURANI YANG TERKALAHKAN



Ada apa dengan negeriku
Mengapa kebencian dan mengidolakan mengalakan nalar dan nurani.
Apa ini tentang hati yang sudah mati, hingga enggan menyerap pesan-pesan kebaikan.
Atau akal pikiran yang sudah tidak bisa membedakan sumber kebenaran dengan sumber kesesatan.
Semua itu tentang siapa yang memengaruhi siapa.
Dan tentang bagaimana menjaga idealime.
Semuanya tentang setiap orang yang sedang memperjuangkan nilai-nilai yang diyakininya masing-masing.
Hingga menang dan kalah tidak dapat dihindari.
Hidup hanya saling memahami dan saling mengerti, bukan saling menghormati dan menghargai.
Persatuan merupakan tujuan yang tak berkesudahan untuk digapai.
Semua berdiam dalam bingkai kebersamaan yang semu.
Pekik rakyat yang menahan beratnya beban hidup dipandang sebelah mata.
Sedangkan hasrat diri adalah tujuan yang tak tergantikan.
Bila keegoan itu lenyap demi tujuan bersama dalam rumah besar bernama Negara.