Debu
musim kemarau yang tersapu oleh kencangnya terpaan angin.
Kedatangannya
tidak pernah diinginkan oleh lalu-lalang mereka yang melintas.
Sebentar
saja hinggap, tak seberapa lama diusap dan tercampakkan lagi ke asalnya.
Kemudian
terpaan angin lagi membuatnya terbang dan hinggap untuk kesekian kalinya.
Bukan
angin yang tidak pernah lelah, tapi debu yang begitu penurut ikut ke mana angin
membawanya.
Setakat
itu debu dianggap kotoran yang harus dijauhi dan dihalau kedatangannya.
Dan
musim kemarau tak kunjung berlalu, menggersangkan semua yang menghijau.
Dan
debu pun bisa lebih jauh lagi untuk terbang dan lebih bebas untuk hinggap.
Sedangkan
air menjadi langka dan berharga.
Debu
yang dianggap kotor dan dijauhi itu akhirnya dicari dan dirasa manfaatnya.
Debu
seakan menjadi barang berharga sebagai media bersuci untuk menghadap Tuhan.
Debu
digunakan untuk mengusap tangan dan wajah sebagai pengganti air.
Mungkin
akan ada saatnya ketika keadaan merubah cara pandang seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar